
SANGATTA – Senin (3/6/2024), Pemerataan listrik merupakan upaya untuk memastikan akses listrik yang terjangkau dan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Hal ini merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan bangsa, karena listrik merupakan kebutuhan dasar yang menunjang berbagai aspek kehidupan.
Dengan latar belakang wilayah yang luas dan tantangan geografis yang kompleks, misi menyediakan listrik ke setiap sudut Kutim bukanlah perkara mudah. PT PLN sebagai perusahaan yang bertanggung jawab penuh atas peningkatan Rasio Elektrifikasi (RE) di Indonesia, menjadi mitra utama dalam proyek ini.
Pada kesempatan itu, Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Setkab Kutim, Arif Nur Wahyuni, menjelaskan, sejak dimulainya program ini telah menyasar desa-desa terpencil yang sulit dijangkau. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya seperti medan yang berat sehingga sulit untuk dijangkau, oleh sebab itu Pembangunan infrastruktur Listrik seperti di wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) menjadi lebih menantang.
Hingga tahun 2023, dari total 139 desa dan 2 kelurahan di Kutim, tercatat 33 desa yang masih belum menikmati aliran listrik PLN. Berdasarkan data terbaru, 104 desa kini telah teraliri listrik PLN 24 jam, 1 desa mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan 7 desa lainnya menggunakan Solar Cell Komunal.
“Kelistrikan desa di Kutim saat ini mencapai 76,60 persen yang teraliri listrik PLN, PLTMH, dan Solar Cell Komunal. Sedangkan 23,40 persen sisanya belum teraliri listrik PLN, PLTMH, maupun Solar Cell Komunal,” jelas Arif.
Peningkatan ini tidak terlepas dari langkah strategis Pemerintah dalam program elektrifikasi yang mencakup, penyediaan listrik untuk desa terpencil, peningkatan infrastruktur listrik, pengembangan energi terbarukan, dan keterjangkauan harga listrik.
Program ini fokus pada menjangkau desa-desa yang belum terhubung dengan jaringan listrik utama, memberikan prioritas kepada wilayah yang paling membutuhkan. Bersinergi bersama PT PLN, memastikan jaringan listrik yang lebih stabil dan merata.
“Kami berkomitmen untuk terus bekerja keras, memastikan seluruh masyarakat Kutim mendapatkan akses listrik yang layak. Ini bukan hanya soal penerangan, tapi juga soal meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang ekonomi baru,” ujar Ardiansyah Sulaiman beberapa waktu lalu.
Harapan dan optimisme tumbuh seiring dengan meningkatnya akses listrik di Kutim, menunjukkan bahwa mimpi untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata bukanlah hal yang mustahil. Dengan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, diharapkan pemerataan listrik dapat tercapai di seluruh wilayah Indonesia, terutama Kutim.







