SANGATTA – Separuh lebih Ramadhan telah pergi, akhirnya Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT) memantapkan diri untuk menggelar Buka Puasa Bersama (Bukber) di Sekretariat AJKT, Jalan Karya Etam No.60 RT.14, Sangatta Utara, Selasa (18/03/2025) petang.
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, acara buka puasa bersama AJKT selalu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Pada Bukber tahun ini, terpantau tamu undangan yang membludak turut meramaikan kegiatan yang identik digelar jelang adzan maghrib berkumandang.
Diluar ekspektasi, dari beberapa undangan yang ditebar, berhasil mendatangkan puluhan orang yang terdiri dari rekan-rekan jurnalis, perwakilan perusahaan setempat, unsur Forkopimda, anggota dewan hingga orang nomor satu dan dua di Kutim. Semakin dekat jam berbuka puasa, satu per satu dari mereka mulai berangsur-angsur berdatangan. Tidak lupa disambut dengan ramah dan digiring memasuki ruangan yang tidak begitu luas, namun juga tidak bisa dibilang sempit itu.
Di dalam ruangan tersebut, berjajar rapih barisan individu dari berbagai latar belakang pekerjaan, suku dan agama. Menjadikan Bulan Ramadhan ini seakan-akan tidak hanya milik umat Islam saja.
Suasana penuh kebersamaan menyelimuti area tersebut, dimana hati yang rindu dapat mencair bila bertemu teman yang lama tidak kita temui. Bak angin segar pelengah keringat yang deras bercucuran akibat pengap.
Seketika ruangan menjadi hening, ulah Sang Master of Ceremony (MC) melancarkan aksinya dengan bersilat lidah sambil memegang mic dihadapan para audiens yang sontak terdiam dan memberikan fokusnya kepada satu sosok di depan.
Seperti pada acara seremonial pada umumnya, sejumlah rekan jurnalis sibuk mengabadikan momen tersebut. Sebagian lainnya malah kebingungan mencari celah untuk duduk.
Tiba pada saat sambutan-sambutan, diawali oleh Ketua AJKT, Raymond Chouda yang sigap berdiri dan memulai sambutannya dengan salam. Dalam pidato singkatnya, selain berisi ucapan apresiasi kepada seluruh jajaran pemerintah dan stakeholder, ia juga mengingatkan bahwa ini merupakan rangkaian acara menuju satu dekade berdirinya AJKT di Kutim.
“Jadi dalam rangkaian satu dekade ini, teman-teman (Anggota AJKT) sudah membuat beberapa acara. Seperti kemarin ada Family Gathering AJKT di Teluk Lombok, kemudian ada study tour di Jogja-Solo dan insyaallah puncaknya nanti adalah Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang akan dilaksakan sekitar bulan Juni mendatang,” bebernya.
Ia menekankan pentingnya UKW sebagai penentu seorang wartawan secara legalitas berkompetensi atau tidak.
“Nah, kemaren di 2021 AJKT sempat melaksanakan UKW, dimana ada sekitar 30 peserta yang ikut. Kegiatan ini juga bekerjasama dengan Solopos yang mana akan kita laksanakan kembali setelah Idul Adha nanti di bulan enam,” ujarnya, dilanjut dengan sebuah pantun sebagai penutup.
Selanjutnya, Bupati Ardiansyah Sulaiman, berkesempatan memberikan pidato singkat sebelum waktu berbuka puasa tiba. Pada kesempatan itu, dirinya mengaku bahwa orang-orang yang hadir di ruangan ini merupakan sosok-sosok yang familiar baginya.
“Memang wajah-wajah yang ada (disini) bukan wajah-wajah asing, karena setiap saat menunggu berita. Baik yang (biasanya) datang ke ruangan bupati, maupun menunggu di depan pintu ruang bupati,” ujarnya sambil berdiri ditempat.
Disamping itu, orang nomor satu di Kutim ini turut menekankan etika dalam penyampaian suatu informasi. Menurutnya ada beberapa hal yang patut diperhatikan ketika menyadur suatu informasi yang diterima.
“Jadi kalau saya katakan mohon jangan ditulis maka tolong jangan ditulis. Karena barangkali ini termasuk kode etiknya masyarakat umum. Sehingga kita paham yang mana harus kita tulis dan yang mana tidak harus kita tulis,” ungkapnya.
Usai runtutan sambutan, tibalah waktu berbuka puasa. Setelah azan magrib berkumandang, para tamu hadirin bergegas membuka sebotol air mineral dalam genggaman masing-masing, dilanjut dengan risol dan jalangkote yang sigap disantap dengan lahap.
Belum puas mengunyah gorengan yang ada di depan mata, agenda selanjutnya dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah. Berbondong-bondong mereka pergi keluar guna mensucikan diri sebelum ‘berbisik pada bumi, namun terdengar sampai langit.’
Usai melaksanakan kewajiban, Aroma sedap dari berbagai hidangan di atas meja pun sukses menggugah selera para jemaat yang sudah seharian menahan lapar. Berbagai hidangan lezat tersaji di meja prasmanan, mulai dari takjil, hidangan utama, hingga hidangan penutup.
Tidak menunggu waktu lama, barisan panjang pun terbentuk dan tamu undangan langsung menyerbu meja prasmanan. Suasana pun berubah menjadi riuh rendah dengan suara sendok dan garpu yang beradu.
Mereka terlihat makan dengan lahap. Saking lahapnya, mereka sampai lupa untuk mengobrol. Suasana pun hening sejenak, hanya terdengar suara kunyahan dan tegukan air.
Setelah semua hidangan ludes, sebagian para tamu undangan beserta rekan jurnalis pun mulai mengobrol dan bercanda di luar. Suasana pun kembali riuh dengan tawa dan canda.
Hingga di pengujung acara pun tiba, tetapi ada satu hal yang terlupakan. Mereka tidak sadar bahwa mereka belum mengabadikan momen kebersamaan ini. (Dd)







