DPPKB Kutim Perkuat Pencegahan Stunting Berbasis Data dari Akar Masalah

SANGATTA – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini semakin diarahkan berbasis data dan tindakan lapangan. Hal itu ditegaskan dalam kegiatan verifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunting Kecamatan Sangatta Utara yang digelar Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim di Aula DPPKB belum lama ini.

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi memperkuat intervensi dari akar permasalahan. Sangatta Utara dipilih karena menjadi kecamatan dengan angka keluarga berisiko stunting tertinggi di Kutim.

Dalam paparannya, Junaidi menjelaskan bahwa keluarga berisiko tidak hanya yang memiliki anak stunting, tetapi juga mereka yang menghadapi faktor penyebab seperti sanitasi buruk, air bersih tidak layak, serta pasangan usia subur dengan kategori 4T. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sebelum sebuah keluarga memiliki anak.

“Hari ini kita berbicara dari hulunya, dari keluarga yang memiliki faktor risiko, seperti sanitasi tidak layak, air bersih yang belum memenuhi standar, tidak memiliki jamban sehat, kondisi pasangan usia subur 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak), hingga tidak mengikuti program KB,” paparnya.

Sebagai tindak lanjut, DPPKB menyiapkan program inovatif Cap Jempol Stop Stunting (Cara Pelayanan Jemput Bola Stop Stunting) yang menggerakkan tim lintas perangkat daerah untuk turun langsung membedah data dan memastikan intervensi tepat sasaran.

Junaidi juga menegaskan pentingnya peran Petugas Lapangan KB (PLKB) untuk lebih mengenal kondisi wilayahnya. DPPKB juga mengundang media untuk ikut mengawal validitas data agar rencana penurunan stunting lebih tepat dan berdampak bagi masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/BN)

Pos terkait

banner 468x60