Agenda Budaya Kutim Libatkan Orang Tua dan Komunitas, Pendidikan Karakter Jadi Tujuan Utama

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Rangkaian empat agenda budaya akhir tahun yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini dikemas dengan pendekatan baru, pelibatan aktif orang tua dan komunitas sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Tidak hanya murid dan sekolah, masyarakat kini dilibatkan penuh dalam Festival Magic Land, Festival Literasi Daerah, Pentas Seni Pelajar, dan Gebyar PAUD Kreatif.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan, pendidikan karakter tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan keluarga dan ekosistem sosial di sekitarnya. Karena itu, seluruh agenda budaya akhir tahun 2025 dirancang agar orang tua, komunitas seni, penggerak literasi, hingga karang taruna dapat berpartisipasi langsung.
“Ini bukan sekadar hiburan. Semua kegiatan dirancang untuk menanamkan nilai budaya, membaca, dan berkarya kepada anak-anak,” ujarnya.

Pada Festival Magic Land, misalnya, orang tua dilibatkan sebagai pendamping kreatif dalam membuat kostum, dekorasi, hingga pameran mini karya anak. Sementara di Pentas Seni Pelajar, sejumlah komunitas tari, musik, dan teater dari berbagai kecamatan turut menjadi mentor bagi siswa. Kolaborasi ini membuat pelajar tidak hanya tampil, tetapi juga belajar proses kreatif secara profesional.

Sorotan utama tetap berada pada Festival Literasi Daerah yang menargetkan pemecahan rekor MURI melalui kegiatan menulis massal ribuan pelajar SD dan SMP. Bedanya, tahun ini relawan literasi dari berbagai komunitas desa, pengelola rumah baca, hingga organisasi kepemudaan ikut mendampingi proses persiapan peserta. Mulyono menegaskan, literasi tidak boleh hanya hidup di ruang sekolah.
“Kami ingin anak-anak Kutim gemar membaca dan menulis. Ini fondasi kemajuan peradaban,” katanya.

Pada agenda Gebyar PAUD Kreatif, orang tua turut dilibatkan sebagai fasilitator permainan edukatif dan pendamping aktivitas seni anak usia dini. Upaya ini dinilai penting untuk menguatkan hubungan emosional antara anak dan keluarga melalui kegiatan budaya.

Dirinya menekankan, pelibatan komunitas dan keluarga adalah strategi untuk membangun budaya yang hidup, bukan seremonial. “Anak tidak cukup hanya pintar berhitung. Ia harus mengenal seni, menghargai proses berkarya, dan bangga dengan budayanya sendiri,” tegasnya. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60