BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Festival Musik Anti Narkoba yang digelar di Kecamatan Bengalon tahun ini menghadirkan dimensi baru dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika di Kutai Timur (Kutim). Tidak hanya menyentuh remaja sebagai kelompok paling rentan, festival ini juga menempatkan keluarga orang tua, guru, dan komunitas lokal sebagai bagian dari strategi kolektif membangun ketahanan sosial terhadap narkoba.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menegaskan, pendekatan pencegahan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau aparat penegak hukum. “Anak muda membutuhkan ruang ekspresi. Melalui musik, pesan anti narkoba lebih mudah diterima dan dipahami,” ujarnya.
Namun ia menekankan, ruang edukasi ini harus ditopang oleh lingkungan keluarga yang peka dan peduli.
Selama tiga hari penyelenggaraan, festival tidak hanya diisi oleh lomba band pelajar dan parade musik akustik. Ada sesi khusus bertajuk “Keluarga dan Bahaya Narkoba” yang diikuti puluhan orang tua siswa. Dalam sesi ini, perwakilan BNN Kutim dan kepolisian menjelaskan bagaimana peredaran narkoba sering kali menyasar lingkungan terdekat remaja: teman sebaya, media sosial, dan tempat nongkrong.
Para orang tua diberikan sejumlah indikator perilaku anak yang perlu diwaspadai, mulai dari perubahan sikap, konsumsi hiburan daring, hingga pergaulan yang tidak terpantau. Format penyuluhan dibuat santai di area festival, sehingga peserta merasa lebih nyaman berdiskusi tanpa suasana formal yang kaku.
Di sisi lain, musisi lokal juga dilibatkan dalam sesi dialog terbuka dengan orang tua. Mereka berbagi bagaimana peran keluarga dapat menentukan arah kehidupan remaja, termasuk menjaga mereka dari jerat narkoba. Banyak pengalaman personal disampaikan secara emosional oleh para musisi mengenai teman atau kerabat yang kehilangan masa depan akibat narkotika.
Dalam panggung edukasi untuk pelajar, narasumber memaparkan bagaimana dukungan keluarga baik dalam bentuk perhatian, dialog terbuka, maupun penguatan karakter menjadi benteng utama pencegahan narkoba. Para pelajar bahkan diminta menuliskan pesan untuk keluarga mereka tentang pentingnya hubungan yang sehat dan komunikasi dua arah.
Festival ini menjadi ruang yang mempertemukan tiga elemen penting: pemerintah, remaja, dan keluarga. Menurut Padliyansyah, strategi kampanye antinarkoba harus bergerak dari ruang formal ke ruang sosial yang lebih humanis dan kolaboratif. “Musik membantu menyampaikan pesan, tetapi keluarga memastikan pesannya hidup,” tegasnya. (adv/diskominfokutim/yap)







