KUTAI TIMUR – Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia, bahkan dunia. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC, dengan tingkat kesakitan dan kematian yang masih tinggi.
Untuk menanggulangi masalah ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak tahun 2018 menginstruksikan setiap Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten/Kota untuk melakukan deteksi dini terhadap masyarakat yang berisiko, khususnya mereka yang berstatus suspect TBC atau memiliki kontak erat dengan penderita.
Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Kutai Timur, Harwarti, menjelaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti instruksi Kemenkes dengan melakukan pencarian secara masif terhadap suspect TBC.
Hingga kini, Dinkes Kutai Timur telah berhasil mendeteksi ribuan warga yang terindikasi mengidap TBC, mencapai 90 persen dari estimasi data yang diberikan oleh Kemenkes.
“Sejak tahun 2018, kami sudah tancap gas menindaklanjuti instruksi dari Kemenkes untuk mencari sebanyak-banyaknya suspect TBC,” ujar Harwarti.
Sebelumnya, kasus TBC hanya terdeteksi ketika pasien datang ke layanan kesehatan, seperti puskesmas atau rumah sakit. Namun, sejak 2018, Dinkes Kutai Timur lebih proaktif dengan melakukan skrining dan deteksi dini kepada masyarakat.
Harwarti menjelaskan, peningkatan jumlah suspect TBC memungkinkan pihaknya memberikan perawatan lebih cepat, mengingat pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama.
“Sekarang, kami tidak lagi menunggu pasien datang, kami aktif mencari masyarakat yang berisiko terpapar TBC,” tambahnya.
Namun, ia juga mengungkapkan tantangan lainnya. Banyak penderita TBC yang enggan menjalani pengobatan medis karena merasa malu. Oleh karena itu, Harwarti mengimbau agar siapa pun yang merasakan gejala TBC segera melapor ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan menghindari penyebaran lebih luas.(Adv)







