KUTAI TIMUR – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kutai Timur terus menjadi perhatian serius. Salah satu penyebab utama adalah peran pekerja seks komersial (PSK) atau yang dikenal dengan “kupu-kupu malam”. Aktivitas mereka tidak hanya semakin terang-terangan tetapi juga berpindah-pindah, baik antar kabupaten maupun provinsi. Kondisi ini mempersulit upaya pemantauan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Bahrani, mengungkapkan bahwa pergerakan para PSK yang sulit dilacak menjadi tantangan besar dalam upaya mencegah penularan HIV/AIDS.
“Memang penularannya salah satunya lewat aktivitas tersebut. Rata-rata dari mereka ini sudah ada yang terkena HIV/AIDS. Jika dibiarkan, risiko penyebaran ke lebih banyak orang sangat tinggi,” ujar Bahrani.
Ia juga menambahkan bahwa penutupan hotel, rumah kos, atau tempat-tempat yang biasa digunakan PSK tidak memberikan dampak signifikan. Menurutnya, langkah ini justru mendorong mereka mencari lokasi baru untuk melanjutkan aktivitasnya.
“Misal di tempat A ditutup, mereka akan pindah ke tempat B. Ini yang membuat kami semakin kesulitan memantau,” jelasnya.
Bahrani menekankan pentingnya kesadaran diri para PSK untuk tidak menularkan HIV/AIDS.
“Kesadaran pribadi adalah kunci utama. Tanpa itu, sulit untuk memutus rantai penularan meskipun berbagai upaya pencegahan dilakukan,” tegasnya.
Saat ini, Dinkes Kutai Timur tengah mendukung rencana nasional untuk mencapai eliminasi HIV/AIDS pada tahun 2030. Upaya edukasi, sosialisasi, dan peningkatan layanan kesehatan terus digalakkan. Namun, tanpa dukungan dari masyarakat, khususnya para PSK, target ini akan sulit tercapai.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar selalu menjaga perilaku hidup sehat dan menghindari hubungan seksual berisiko sebagai salah satu langkah preventif. Eliminasi HIV/AIDS bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.(Adv)







