SANGATTA — Di tengah pasokan bahan pangan dari luar daerah, sekelompok warga di Sangatta memilih jalan kemandiriannya sendiri, beternak ayam pullet. Dari lahan bekas tambang yang disulap menjadi kandang kolektif, mereka memulai langkah kecil untuk swasembada telur.
Melalui kolaborasi antara Asosiasi Peternak Ayam Petelur Sangatta (APAPS), Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), serta PT Kaltim Prima Coal (KPC), lahirlah program budidaya ayam betina muda siap bertelur. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar proyek CSR, tetapi tonggak menuju kemandirian pangan.
“Kebutuhan telur di Kutim mencapai 80 ribu butir per bulan, dan sebagian besar masih dipasok dari luar daerah,” ujar Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum. “Dengan program ini, kita mulai menanamkan kemandirian dari Sangatta,” lanjut Dyah.
Inovasi pun berjalan. Mini Feedmill, pabrik pakan mini lokal, kini dikembangkan agar peternak tak bergantung pada suplai luar. Kerja sama dengan Polres Kutim yang menanam jagung pun dijajaki untuk menjamin bahan baku pakan.
“Kalau pakan bisa diproduksi sendiri, biaya operasional bisa ditekan, dan peternak bisa lebih mandiri. Kami juga akan memediasi kerja sama antara APAPS dengan program ketahanan pangan milik Polres Kutim, yang menanam jagung. Dengan begitu, pasokan bahan baku pakan bisa tersedia dan terjangkau,” tambah Dyah.
Superintendent Conservation Agribusiness Development PT KPC, Nugroho Dewanto, menyebut, program ini sebagai bagian transformasi ekonomi desa yang keberlanjutan.
“Kami melihat potensi besar dari masyarakat Sangatta untuk bisa swasembada telur. Budidaya pullet ini bisa menjadi solusi ekonomi keluarga sekaligus menjawab kebutuhan protein hewani masyarakat,” ujarnya.
Lebih dari itu, Dewanto menekankan pentingnya sistem distribusi yang terintegrasi. Dengan skema pemasaran kolektif dan pembinaan berkelanjutan, produksi telur tak hanya akan stabil dari sisi pasokan, tetapi juga mampu menciptakan harga yang bersaing dan adil bagi konsumen serta produsen. (ADV/ProkopimKutim/BN)







