SANGATTA – Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) meraih Akreditasi Utama dari Kementerian Kesehatan RI melalui Lembaga Akreditasi Fasyankes Seluruh Indonesia (Laskesi). Predikat ini menjadi bukti bahwa sistem layanan, manajemen, dan sumber daya Labkesda Kutim telah memenuhi standar nasional.
Meski begitu, Kepala UPT Labkesda Kutim, Gregorius Gebo menilai capaian tersebut baru langkah awal. Menurutnya, potensi Labkesda sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum tergarap optimal karena belum banyak perusahaan yang memanfaatkan jasa laboratorium daerah.
“Kami sangat bersyukur atas pencapaian ini. Tapi akreditasi akan lebih bermakna jika masyarakat dan perusahaan melihat Labkesda sebagai laboratorium rujukan utama,” ujar Gregorius, Jumat (1/11/2025).
Gregorius menuturkan, Labkesda yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memiliki peran strategis dalam menopang sektor kesehatan dan ekonomi. Selain pemeriksaan klinik, juga tersedia layanan analisis kesehatan lingkungan hingga uji penyakit menular.
“Kalau perusahaan-perusahaan di Kutim rutin melakukan medical check-up atau pengujian lingkungan ke Labkesda, potensi PAD bisa sangat signifikan. Sayangnya, belum banyak yang melirik ke arah itu,” jelasnya lagi.
Namun, Labkesda masih menghadapi kendala seperti minimnya tenaga analis. Saat ini hanya tersedia empat orang dari kebutuhan ideal 16 orang. “Kami sudah beberapa kali mengajukan formasi tambahan ke Dinas Kesehatan dan BKPSDM. Tapi belum ada realisasi. Padahal ini sangat mendesak untuk menunjang operasional dan menjaga kualitas layanan,” katanya.
Labkesda Kutim juga masih menghadapi kendala infrastruktur. “Saat hujan, jalan menuju Labkesda licin dan berlumpur. Ini menyulitkan masyarakat yang ingin berobat atau memeriksakan diri,” ungkapnya. (ADV/ProkopimKutim/BN)







