SANGATTA –Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah menyusun Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati). Kini penyusunan itu memasuki tahap finalisasi.
Belum lama ini, DLH Kutim bersama Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PSLH-SDA) LP2M Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda menggelar Focus Group Discussion (FGD) Tahap II di Hotel Royal Victoria, Sangatta. Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Sekretariat Kabupaten (Setkab) Kutim, Noviari Noor.
Dalam pidatonya, Noviari menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyempurnakan draf dokumen. “RIP Kehati ini diharapkan menjadi instrumen penting pengelolaan keanekaragaman hayati secara terpadu, serta menjadi pedoman bagi sektor swasta dan perusahaan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati sesuai Instruksi Presiden,” paparnya.
Ia mencontohkan, pelestarian buaya badas di Long Mesangat dan tanaman langka di Taman Nasional Kutai (TNK), yang menjadi fokus utama dalam upaya konservasi. Menurutnya, RIP Kehati bukan sekadar dokumen administratif, tetapi pedoman pembangunan berkelanjutan yang menyentuh semua sektor.
“Kutim menjadi salah satu daerah yang wajib memiliki dokumen ini, yang menyatukan pembangunan berkelanjutan. Semua sektor pasti akan bersentuhan dengan keanekaragaman hayati,” tegasnya.
Kepala DLH Kutim Aji Widhaya Effendi menambahkan, penyusunan rencana induk ini merupakan upaya sistematis untuk menciptakan arah pengelolaan yang terstruktur dan efisien. “Output dari kegiatan ini adalah dokumen RPI Kehati yang berisi database dan master plan pengelolaan keanekaragaman hayati di Kutim,” urai Aji.
Sebanyak 55 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, dan masyarakat turut hadir, menandai langkah maju Kutim dalam memperkuat tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. (ADV/ProkopimKutim/BN)







