SANGATTA – Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memantapkan kiprahnya sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis daerah dengan visi besar untuk bertransformasi menjadi universitas negeri di masa depan.
Hal itu disampaikan Ketua STIPER Kutim, Ismail Fahmi Almadi, dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-20 yang diikuti 68 wisudawan di GSG Bukit Pelangi, Sangatta, beberapa waktu lalu.
Ismail mengungkapkan, tahun akademik 2025 menjadi titik kemajuan bagi STIPER. Ada peningkatan jumlah mahasiswa baru sebanyak 120 orang, atau naik 193 persen dibanding tahun sebelumnya. Ia menjelaskan, inovasi pembukaan kelas regional dan kelas pekerja menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan tersebut.
“Tahun ini kami berinovasi dengan membuka kelas reguler dan kelas pekerja. Alhamdulillah sekitar 40 persen mahasiswa yang mendaftar berasal dari kalangan pekerja. Harapan kami, kehadiran kelas ini mampu meningkatkan kapabilitas mereka sekaligus memberi kontribusi nyata pada instansi tempat mereka bekerja,” ungkapnya.
STIPER kini memiliki 51 dosen tetap, dengan 10 doktor, 37 magister, dan sebagian tengah menempuh studi lanjutan. Kelima program studi itu adalah Agroteknologi, Teknik Pertanian, Peternakan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan. Semua program studi telah berstatus akreditasi “Baik” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Pihak kampus juga aktif dalam riset dan pemberdayaan masyarakat, termasuk kerja sama dengan PT Ranindo Danari Internusa dan Universitas Padjadjaran dalam uji coba padi ladang. Pihak kampus juga berharap dukungan penuh dari Pemkab Kutim. Selain program beasiswa untuk dosen yang tengah menempuh pendidikan lanjutan, STIPER menargetkan transformasi menjadi Universitas Negeri di Kutim.
“Kami mohon dukungan Bapak Bupati untuk mewujudkan cita-cita besar ini. STIPER siap meningkatkan kapasitas, agar menjadi universitas kebanggaan masyarakat Kutim,” pungkasnya. (ADV/ProkopimKutim/BN)







