BENGALON – Tradisi panen padi gunung varietas Mayas di Desa Persiapan Sekurau Atas, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi momentum penting untuk menjaga ketahanan pangan lokal.
Hal itu disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat menghadiri acara syukuran adat yang digelar masyarakat Dayak Basap. Ardiasnya menegaskan, ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kebijakan dari pusat, melainkan juga dari praktik dan tradisi masyarakat di akar rumput.
“Syukuran ini bukan sekadar seremoni, tetapi mencerminkan keberhasilan kita mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Pemerintah daerah terus mendukung petani dengan pelatihan dan fasilitas pertanian yang berkelanjutan,” kata Ardiansyah.
Tahun ini, Desa Persiapan Sekurau Atas menikmati panen dari lahan seluas 30 hektar. Padi Mayas ditanam setahun sekali tanpa pupuk kimia dan alat berat. Sistem ini menjaga kesuburan tanah sekaligus menjadi warisan kearifan lokal yang sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan.
“Kami diajarkan menanam hanya sekali dalam setahun. Untuk menjaga keseimbangan. Tanah juga butuh istirahat, tetap subur,” kata Pelaksana Tugas Kepala Desa Persiapan Sekurau Atas, Jamhari.
Ia juga berharap dukungan perusahaan sekitar, seperti PT Perkasa Inaka Kerta (PIK), dapat membantu pemasaran hasil panen warga. “Kami tidak ingin hasil panen hanya jadi simbol syukur tanpa nilai jual,” ujarnya.
Ardiansyah menambahkan, Pemkab Kutim terus mendorong program pertanian berkelanjutan dengan menyiapkan 100 ribu hektare lahan baru, terdiri dari 20 persen untuk padi dan 80 persen untuk hortikultura. Ia menegaskan, perluasan lahan harus disertai penguatan budaya lokal.
“Kita jangan meninggalkan cara-cara lokal yang sudah terbukti selaras dengan alam. Pemerintah hadir untuk memperkuatnya dengan teknologi tepat guna, bukan menggantikannya,” pungkasnya. (ADV/ProkopimKutim/BN)







