SANGATTA — Gereja Toraja Jemaat Rama di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), menggelar kegiatan Sekolah Minggu dan Remaja Gereja Toraja (SMGT), yang agak progresif. Gereja menghadirkan materi pendidikan seks dan literasi digital bagi anak-anak dan remaja, dua topik yang jarang disentuh di lingkungan ibadah.
Sebanyak 92 peserta mengikuti kegiatan bertema “Sex Education” dan “Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Gen-Z” ini. Materi disampaikan oleh Yuliana Kalalembang, pengurus Persatuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutim, yang juga pejabat di lingkungan Pemkab Kutim.
Menurut Yuliana, pendidikan seks penting agar anak memahami tubuh dan batas pergaulan secara benar. “Pendidikan seksual tidak berarti mengajarkan anak untuk melakukan seks, tetapi membekali mereka dengan pengetahuan agar tidak menjadi korban atau pelaku dalam situasi yang salah,” ujar Yuliana.
Dalam kegiatan ini, peserta juga dibekali pemahaman tentang dampak media sosial, termasuk tekanan citra diri dan efek algoritma terhadap perilaku. Ia mempersoalkan fenomena tekanan untuk tampil sempurna di ranah digital yang sering kali menimbulkan kecemasan di kalangan Generasi Z.
“Anak-anak zaman sekarang sangat cepat menangkap informasi, tapi belum tentu bisa memilah mana yang baik dan buruk,” jelas Yuliana.
Ketua panitia SMGT, Jemaat Rama menyebut kegiatan ini sebagai langkah gereja menghadapi tantangan zaman. . “Kami ingin anak-anak ini bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga kuat secara mental dan spiritual. Mereka akan menjadi pelopor generasi Emas 2045,” ujarnya. (ADV/ProkopimKutim/BN)







