SANGATTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar kegiatan gladi ruang dan pembentukan posko siaga. Ini merupakan bagian dari kegiatan penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Banjir 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin, menyatakan, banjir merupakan salah satu ancaman bencana yang paling sering terjadi di wilayah Kutim. Untuk mengatasinya, diperlukan kolaborasi lintas instansi. Menurutnya, pembentukan posko siaga menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan mempercepat respons darurat di lapangan.
“Potensi banjir yang tinggi di Kutim mendasari pentingnya kegiatan ini. Tujuannya adalah untuk menyusun skenario penanggulangan banjir yang terstruktur dan terkoordinasi,” ujar Sulastin.
Kegiatan ini dibagi menjadi tiga agenda utama yakni sosialisasi dokumen, gladi ruang (table top exercise/TTX), dan gladi posko (command post exercise/TCX). Gladi ruang dan posko menjadi wadah untuk menguji kesiapan operasional dan koordinasi antarinstansi dalam menghadapi situasi darurat.
Sementara itu, Plt Asisten Pemerintahan Umum dan Kesejahteraan Rakyat, Setkab Kutim, Trisno, mengingatkan Kutim memiliki empat daerah aliran sungai (DAS) yang berpotensi menimbulkan banjir besar, seperti yang terjadi di Sangatta pada 2022. “Persiapan adalah kunci dalam penanganan bencana,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebenarnya banjir dapat diprediksi 24-48 jam sebelumnya. Namun, perlu dukungan alat deteksi yang memadai, seperti pengukur ketinggian air. Ia mencontohkan pengalamannya menggunakan aplikasi ArcGIS untuk mitigasi banjir, yang memungkinkan penanganan secara optimal.
“Semoga dengan adanya Dokumen Kontingensi Banjir ini, mitigasi banjir di Kutim dapat dilakukan secara maksimal,” harapnya. (ADV/ProkopimKutim/BN)







