
BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Proses penetapan penerima Anugerah Kebudayaan Kutai Timur (Kutim) 2025 tahun ini mendapat perhatian karena menerapkan standar seleksi yang lebih profesional dan melibatkan tim penilai dari tingkat provinsi. Langkah ini dinilai memperkuat kredibilitas penghargaan sekaligus memastikan, apresiasi diberikan kepada tokoh yang benar-benar berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, menyampaikan, seleksi berlangsung berlapis sejak tiga bulan terakhir. Total ada 16 hingga 17 peserta yang mendaftar, terdiri dari budayawan, seniman, dan tokoh pelestari tradisi di berbagai kecamatan. “Dari kemarin itu yang mengikuti itu sekitar 16-17 orang,” ujarnya.
Setiap peserta diminta menyerahkan dokumen administrasi dan portofolio yang menunjukkan kiprah mereka dalam dunia kebudayaan. Tahap tersebut kemudian berlanjut ke visitasi lapangan yang dilakukan langsung tim penilai dari provinsi Kalimantan Timur. “Setelah di-visitasi oleh tim dari provinsi, terpilihlah delapan orang nanti,” jelasnya.
Pelibatan tim independen dari provinsi ini menjadi poin penting dalam menjaga objektivitas seleksi. Tim penilai melihat langsung aktivitas budaya yang dijalankan calon penerima di lapangan mulai dari karya seni, pelatihan tradisi, pengabdian komunitas, hingga kontribusi dalam menjaga nilai adat di wilayahnya masing-masing.
Menurutnya, penggunaan sistem penilaian gabungan antara dokumen dan kunjungan lapangan membuat hasil seleksi lebih akurat. Dari proses panjang itu, delapan budayawan dianggap memenuhi kriteria dan dinyatakan berhak menerima penghargaan tahun ini. Meski demikian, nama-nama terpilih masih dirahasiakan hingga acara puncak. “Nama-namanya masih akan kami rahasiakan,” tegasnya.
Pemerintah berharap momentum ini tidak hanya menjadi bentuk penghargaan, tetapi juga memperlihatkan bahwa Kutai Timur sedang membangun tata kelola kebudayaan yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dirinya menambahkan, pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga menjaga identitas sosial. Dengan adanya seleksi yang profesional dan terstruktur, pemerintah ingin mendorong lebih banyak pelaku budaya untuk berani berkarya, sekaligus mengajak generasi muda melihat budaya sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar masa lalu.
“Anugerah ini diharapkan menjadi pemicu semangat baru, baik bagi budayawan senior maupun pelaku budaya muda. Ini bentuk penghormatan dan undangan untuk terus menjaga warisan Kutim,” tutupnya. (adv/doskominfokutim/yap)







