SANGATTA – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) memperkuat dua program yang berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat, yaitu pemberdayaan lansia dan percepatan penurunan keluarga berisiko stunting.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menyampaikan kedua program tersebut saling terkait dan menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki kesehatan serta kesejahteraan keluarga di Kutim.
Menurut Junaidi, salah satu program yang kini menjadi perhatian adalah Sekolah Lansia, sebagai wadah pembelajaran bagi masyarakat usia 40 tahun ke atas. Program yang berlangsung selama setahun ini dirancang agar para lansia tetap aktif dan produktif melalui kegiatan senam, pelatihan keterampilan, hingga kesenian.
Program ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan serta memanfaatkan fasilitas PKBM dan lembaga kursus. “Lansia kita harus merasa bangga dan bahagia. Mereka harus terus aktif agar terhindar dari stres maupun masalah kesehatan,” jelas Junaidi.
Sementara itu, upaya penurunan keluarga berisiko stunting dilakukan melalui analisis Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Junaidi menyatakan perlunya diperhatikan faktor “4T”: terlalu dekat jarak kelahiran, terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak anak.
Kutim menargetkan penurunan KRS dari 19 ribu menjadi 11 ribu keluarga, serta menekan prevalensi stunting dari 26 persen menjadi 24 persen atau lebih rendah.
Intervensi lintas perangkat daerah pun digencarkan. Mulai dari integrasi program 1.000 Rumah Layak Huni (RLH), penyediaan pemasangan air bersih gratis oleh PDAM bagi keluarga desil 1–4, hingga pembukaan peluang kerja melalui Disnakertrans. (ADV/ProkopimKutim/BN)







