Guru Filial Jadi Garda Terdepan Pemerataan Pendidikan di Kutim

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Di balik keberhasilan program sekolah filial yang digagas Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), ada peran besar para guru yang ditugaskan mengajar di wilayah pedalaman. Mereka menjadi garda terdepan pemerataan pendidikan, memastikan anak-anak di pelosok tetap mendapatkan layanan belajar berkualitas meski berada jauh dari pusat kota.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menyebut keberanian dan komitmen guru merupakan faktor vital yang membuat sekolah filial berjalan efektif. “Sekolah filial kita bentuk agar anak-anak di perkampungan jauh tetap bisa belajar tanpa harus menempuh jarak jauh,” ujarnya.

Namun, ia menekankan, keberhasilan itu tidak mungkin dicapai tanpa guru yang bersedia turun langsung ke lapangan.

Guru-guru dari sekolah induk dijadwalkan mengajar secara bergilir di filial. Banyak di antara mereka harus menempuh akses sulit jalan tanah, lereng curam, hingga menyeberangi sungai hanya untuk sampai ke sekolah. Meski penuh tantangan, mereka tetap memastikan kualitas pembelajaran sama dengan di sekolah induk.

“Selain memperluas akses pendidikan, sekolah filial juga berfungsi untuk pemerataan tenaga pendidik,” jelas Mulyono.

Sistem rotasi ini tidak hanya menjaga standar mutu, tetapi juga memperkaya pengalaman guru dalam memahami karakter dan konteks sosial masyarakat pedalaman.

Tak jarang para guru harus memanfaatkan ruang belajar sementara sebelum bangunan permanen selesai. Mereka juga kerap terlibat pada kegiatan komunitas agar hubungan sekolah dan masyarakat semakin solid. Di banyak tempat, kedatangan guru filial menjadi titik awal tumbuhnya semangat baru akan pentingnya pendidikan.

Program filial sendiri dibentuk berdasarkan tiga kriteria, ketersediaan lahan, jumlah minimal 60 siswa, serta urgensi kebutuhan wilayah. Jika berkembang baik, sekolah filial bahkan bisa ditingkatkan menjadi sekolah negeri penuh dan beberapa sudah membuktikan hal itu.

Mulyono menegaskan, kehadiran para guru inilah yang menjaga nyala pendidikan tetap hidup di pelosok Kutai Timur. “Pembangunan sekolah tidak akan pernah berhenti. Ini tentang memastikan semua anak punya hak yang sama untuk belajar,” katanya. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60