Kriteria Anugerah Kebudayaan Indonesia Kian Luas, Kutim Adaptasi Perkembangan Seni Modern dan Tradisi Lokal

 

BORNEONUSANTARA.COM, SANGATTA – Dinas Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menyesuaikan mekanisme seleksi Anugerah Kebudayaan Indonesia agar sejalan dengan perkembangan pesat dunia seni dan tradisi lokal. Tahun ini, penilaian semakin diperluas mencakup ragam profesi dan genre kebudayaan, mulai dari sastrawan, penulis, penyair, hingga perajin wastra atau tenun yang selama ini menjadi identitas kuat masyarakat Kutim.

Kepala Bidang Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, mengatakan, perubahan kriteria tersebut merupakan bentuk adaptasi pemerintah terhadap dinamika seni budaya yang terus berkembang dari tahun ke tahun. “Kalau nggak salah juga ada kriteria sastrawan, penulis, penulis tulis, penulis puisi juga masuk,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan ini penting karena selama ini banyak pelaku seni di bidang sastra dan literasi yang memiliki kontribusi besar, namun belum terakomodasi secara optimal dalam bentuk penghargaan. Dengan dimasukkannya kategori ini, para penulis, penyair, dan pegiat literasi daerah kini memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tampil dan diakui secara nasional.

Selain sastra, bidang wastra juga mendapat perhatian khusus. Kutai Timur dikenal memiliki tradisi tenun dan kriya tekstil yang berkembang di berbagai kecamatan. “Kemudian wastra juga masuk juga, ada kriteria wastra,” tambah Fadliansyah.

Ia menjelaskan, penilaian untuk kategori wastra tidak hanya berfokus pada kualitas karya, tetapi juga kecakapan pelaku budaya dalam melakukan pembinaan. “Selain dia berwastra, dia juga diteliti atau divisitasi, ternyata dia bisa memberikan pelatihan-pelatihan. Itu salah satu kriteria,” katanya.

Dalam proses seleksi tahun ini, tim penilai tidak hanya meninjau karya yang dihasilkan, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan dampak sosial para pelaku budaya. Mereka yang memiliki sanggar, komunitas, kelas pelatihan, atau inisiatif pemberdayaan akan memperoleh nilai lebih karena dianggap memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan budaya daerah.

Pendekatan komprehensif ini menjadi bukti bahwa Kutai Timur ingin membawa perwakilan yang benar-benar merepresentasikan napas budaya daerah ke tingkat nasional. Bukan hanya pelaku seni yang produktif, tetapi juga mentor, pembina, dan penggerak komunitas.

Dengan perluasan kategori ini, Dinas Kebudayaan berharap Anugerah Kebudayaan Indonesia tidak hanya menjadi ruang penghargaan, tetapi juga platform untuk memetakan kekuatan budaya Kutim yang semakin beragam. Hasil seleksi akan diumumkan pada November mendatang, dan pemerintah optimistis Kutim dapat mengirimkan wakil terbaiknya dari dunia puisi hingga benang wastra ke panggung nasional. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60