Antusiasme Masyarakat Umum Tinggi, Pameran Sejarah Nabi & Rasul Jadi Ruang Edukasi Keluarga di Kutim

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Pameran Sejarah Nabi & Rasul yang digelar di Masjid Agung Al-Faruq Sangatta selama sepekan bukan hanya menarik perhatian pelajar, tetapi juga menjadi magnet edukasi keluarga di Kutai Timur (Kutim). Ribuan warga datang secara mandiri di luar jadwal kunjungan sekolah untuk menyaksikan penyajian visual sejarah Islam terbesar yang pernah digelar di daerah tersebut.

Pameran hasil kerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim dengan Galeri Al-Jabar Bandung ini menampilkan berbagai miniatur peninggalan sejarah, grafis perjalanan para nabi, hingga replika Ka’bah dan kota Makkah tempo dulu. Banyak orang tua memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan kisah nabi kepada anak-anak mereka melalui pendekatan yang lebih menarik.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menyebut pameran ini sebagai ruang pembelajaran inklusif yang dapat dinikmati seluruh kalangan. “Pameran ini membawa kita memahami perjalanan para nabi dengan pendekatan visual yang edukatif dan menarik. Anak-anak sekolah sangat antusias karena penyajiannya interaktif,” ujarnya.

Pemandu edukatif dari Galeri Al-Jabar memberikan penjelasan langsung kepada pengunjung, membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup. Banyak warga mengaku baru pertama kali melihat penyajian sejarah Islam dalam format visual-immersive seperti ini.

Selain konten utama, beberapa kegiatan tambahan seperti pemutaran film sejarah, kajian tematik, dan sesi diskusi juga diikuti oleh masyarakat umum. Guru-guru pendidikan agama Islam dari berbagai sekolah bahkan datang bersama keluarganya untuk menggali perspektif baru terkait penyampaian materi sejarah.

Beberapa warga mengatakan, pameran ini menjadi sarana mempererat hubungan keluarga karena mereka dapat belajar bersama. Anak-anak terlihat begitu antusias saat melihat visualisasi kota Makkah pada masa Nabi Ibrahim atau perjalanan Nabi Musa menyeberangi Laut Merah yang divisualisasikan melalui panel ilustrasi besar.

Menurut Padliyansyah, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan literasi keagamaan berbasis visual sangat besar. Ia menilai pameran seperti ini bisa menjadi kegiatan rutin di Kutim karena memberi dampak langsung bagi penguatan pemahaman keagamaan masyarakat.

“Ini adalah ruang literasi spiritual yang penting. Kutai Timur terbuka bagi kegiatan edukasi seperti ini, karena sejarah adalah fondasi pembentukan nilai,” tutupnya.

Dengan tingginya minat publik, Disdikbud Kutim mempertimbangkan untuk memperluas format kegiatan serupa ke beberapa kecamatan agar manfaat edukasinya dapat dirasakan seluruh masyarakat Kutai Timur. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60