Penyusunan Buku Sejarah Islam Kutim Diharapkan Jadi Tonggak Kebangkitan Riset Peradaban Lokal

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Rencana penyusunan Buku Sejarah Kebudayaan Islam Kutai Timur (Kutim) pada 2026 mulai dipandang sebagai momentum kebangkitan riset peradaban lokal yang selama ini dinilai masih tertinggal dalam dokumentasi ilmiah. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menegaskan kesiapan mereka untuk menjadikan proyek buku ini sebagai kerja besar yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menuturkan, langkah ini merupakan tindak lanjut dari Seminar Kebudayaan Islam yang digelar tahun ini. Seminar tersebut menghasilkan puluhan naskah, riset, dan catatan sejarah lisan yang akan menjadi fondasi awal penyusunan buku. “Kita ingin sejarah penyebaran Islam di Kutim tidak hanya disimpan dalam ingatan para tokoh, tetapi dibukukan secara ilmiah dan dapat dipelajari generasi mendatang,” ujarnya.

Selama ini, dokumen sejarah Islam di Kutim masih tersebar di berbagai tempat dari rumah tokoh agama, masjid-masjid tua, hingga komunitas adat pesisir. Bahkan sebagian arsip belum pernah disentuh proses konservasi. Karena itu, penyusunan buku ini diharapkan dapat menjadi alat konsolidasi seluruh data sejarah Islam yang terfragmentasi. “Di Sangkulirang, Bengalon, dan pesisir utara, ada banyak situs Islam awal yang belum terdokumentasi lengkap. Buku ini akan menggabungkan semuanya dalam satu kesatuan narasi,” kata Padliyansyah.

Proyek ini juga dinilai strategis untuk membangkitkan kembali minat penelitian di Kutai Timur, terutama terkait peradaban pesisir yang selama ini kurang mendapat perhatian akademisi. Melalui pelibatan peneliti sejarah, MUI Kutim, dan komunitas pemerhati manuskrip, pemerintah berharap lahir rekomendasi baru bagi pengembangan arkeologi dan sejarah lokal ke depan.

Verifikasi lapangan terhadap situs Islam awal akan dilakukan mulai awal 2026 setelah tim kajian dibentuk. Proses ini mencakup penelusuran jalur dakwah ulama dari Sulawesi dan Jawa yang diperkirakan masuk melalui jalur laut sejak berabad-abad lalu. Validasi terhadap naskah dakwah lama dan arsip masjid tua juga menjadi salah satu pekerjaan besar tim kajian.

Sebagian tokoh agama di Kutim menyambut rencana ini sebagai “kebangkitan literasi sejarah Islam daerah”. Mereka menilai bahwa selama ini tidak ada satu pun buku resmi yang benar-benar memetakan perjalanan Islam di Kutai Timur secara lengkap dan ilmiah.

Dengan langkah besar ini, pemerintah berharap Buku Sejarah Kebudayaan Islam Kutai Timur dapat menjadi rujukan utama bagi para peneliti, pendidik, hingga generasi muda. “Anak-anak Kutim berhak mengetahui bagaimana agama dan budaya berkembang di tanah mereka sendiri,” pungkas Padliyansyah. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60