Festival Pesona Budaya 2025 Jadi Ruang Restorasi Identitas Daerah di Tengah Modernisasi Cepat

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadikan Festival Pesona Budaya 2025 sebagai ruang restorasi identitas daerah. Melalui konsep besar “Pasar Zaman Dulu” dan rangkaian pertunjukan budaya, festival ini menjadi pengingat bahwa akar tradisi masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Kutim hari ini.

Kegiatan yang digagas oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim ini menghadirkan rekonstruksi kehidupan tempo dulu melalui penataan pasar tradisional, pameran budaya, pertunjukan seni, hingga workshop edukatif. Puluhan stan dari Bengalon, Kaliorang, Sangkulirang, dan Muara Wahau menyuguhkan gambaran autentik kehidupan masyarakat masa lampau, mulai dari jajanan khas, rotan, hasil kebun, hingga peralatan rumah tangga tradisional.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menegaskan, festival ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki fungsi strategis dalam menjaga kesinambungan nilai budaya lokal. “Pasar zaman dulu ini bukan sekadar dekorasi, melainkan representasi memori kolektif masyarakat Kutim soal bagaimana interaksi sosial dan budaya dibangun di masa lalu,” ujarnya.

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda membuat banyak tradisi lama perlahan memudar. Karena itu, festival ini sengaja dikemas sebagai ruang interaksi lintas generasi yang memungkinkan anak-anak dan remaja mengenal langsung budaya leluhur mereka. Berbagai workshop seperti pelatihan anyaman rotan, kelas memasak kuliner tradisional, dan tari daerah menjadi sarana pewarisan nilai yang relevan.

Selain itu, pertunjukan tari kolosal, musik etnik, dan teater rakyat memberikan gambaran evolusi kebudayaan Kutim dari masa ke masa. Pameran foto desa-desa tua yang dipajang di sepanjang jalur festival turut memperlihatkan bagaimana masyarakat Kutai Timur tumbuh, beradaptasi, dan bertahan dalam berbagai perubahan sosial.

Bagi banyak orang tua yang hadir, festival ini menjadi ajang nostalgia sekaligus pembelajaran keluarga. Banyak orang tua terlihat menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang fungsi alat tradisional, cerita pasar rakyat zaman dulu, hingga makna di balik tarian adat. Interaksi semacam ini menjadi bagian dari “restorasi nilai” yang diharapkan pemerintah daerah.

Di sisi lain, festival ini menjadi ruang bagi komunitas budaya di Kutim untuk menunjukkan eksistensi mereka. Para pengrajin, seniman, dan pekerja kreatif mendapatkan kesempatan untuk tampil dan menunjukkan bahwa tradisi dapat hidup berdampingan dengan era modern.
Padliyansyah menegaskan pentingnya festival budaya sebagai bagian dari pembangunan jati diri daerah. “Budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita membangun masa depan dengan identitas yang kuat,” tegasnya.

Dengan pendekatan ini, Festival Pesona Budaya 2025 tidak hanya menjadi perayaan seni dan tradisi, tetapi juga langkah strategis pemerintah dalam merawat memori kolektif dan identitas masyarakat Kutai Timur di tengah arus perubahan zaman. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60