BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menetapkan lima subsektor ekonomi kreatif (ekraf) sebagai prioritas pengembangan jangka panjang. Penetapan ini dilakukan setelah melalui kajian mendalam bersama akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang diminta menyusun peta jalan ekraf Kutim hingga beberapa tahun ke depan. Langkah tersebut menjadi pijakan penting agar kebijakan ekraf tidak bergerak sporadis dan mampu menjawab kebutuhan pelaku kreatif di seluruh kecamatan.
Lima subsektor yang ditetapkan sebagai unggulan meliputi kuliner, fesyen, kriya, seni pertunjukan, serta film, fotografi, dan videografi. Pemerintah menilai lima subsektor tersebut memiliki basis pelaku paling kuat, berkembang secara organik, dan memiliki potensi pasar yang luas dibanding subsektor lainnya. Selain itu, setiap subsektor dianggap memiliki keterkaitan dengan pariwisata dan dapat mendukung peningkatan ekonomi lokal.
Pada subsektor kuliner, pemerintah melihat pertumbuhan UMKM sangat signifikan. Sementara fesyen berkembang melalui karya desainer lokal dan komunitas jahit yang tersebar di banyak kecamatan. Kriya dinilai menonjol melalui kerajinan ukiran kayu ulin, anyaman, dan lukisan khas masyarakat Kutim. Adapun seni pertunjukan menjadi kekuatan budaya daerah, sementara film dan videografi berkembang pesat di kalangan generasi muda.
“Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, tidak mungkin semua digarap sekaligus. Karena itu kami menetapkan lima subsektor yang paling siap dikembangkan sebagai unggulan,” ujar Kabid Ekraf Dispar Kutim, Ahmad Rifanie.
Dirinya menyebut, penetapan subsektor unggulan menjadi landasan penyusunan program kerja, mulai dari pendampingan, pelatihan, fasilitasi pemasaran, hingga pengembangan ruang publik kreatif. Ia menegaskan, pemerintah ingin bergerak dengan arah yang jelas dan terukur agar pelaku ekraf mendapatkan manfaat langsung dari kebijakan pemerintah.
“Subsektor prioritas ini akan menjadi fondasi kebijakan ekraf Kutim jangka panjang. Kami ingin ekraf tidak hanya tumbuh saat event berlangsung, tetapi hidup sepanjang tahun dan memberi dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” lanjutnya.
Penetapan subsektor unggulan ini juga diharapkan menjadi pemicu munculnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri kreatif agar Kutim memiliki ekosistem ekraf yang lebih kuat. (adv/diskominfokutim/yap).







