PKBM Kutim Dorong Keterampilan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto

BORNEONUSANTARA, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus mendorong keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar tidak hanya menjadi wadah pendidikan nonformal, tetapi juga mampu membekali masyarakat dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mewakili Kepala Disdikbud Kutim Mulyono, mengatakan pembinaan terhadap PKBM dilakukan melalui berbagai program keterampilan yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.

“Banyak keterampilan yang dikembangkan. Salah satunya pastry bakery dan kuliner, kemudian membatik, menjahit, termasuk pemasaran secara online,” ujar Heri.

Menurutnya, pembinaan tidak hanya berhenti pada kemampuan menghasilkan sebuah produk. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pemasaran digital agar produk yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan dipasarkan kepada konsumen.

“Jadi bukan hanya produknya dihasilkan, tetapi bagaimana memasarkannya juga kita berikan pelatihannya. Kemarin kita juga sudah memberikan pelatihan digital marketing,” jelasnya.

Heri menambahkan, pengembangan PKBM juga dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lintas sektor. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pembinaan dapat mencakup berbagai aspek yang dibutuhkan masyarakat, termasuk kesehatan maupun pengembangan kualitas produk.

Sementara untuk pemenuhan standar tertentu seperti produksi halal, saat ini sebagian masih dilakukan secara mandiri oleh masing-masing kelompok. Namun, ke depan Disdikbud akan terus mengembangkan koordinasi dengan instansi yang memiliki kompetensi agar masyarakat mendapatkan intervensi dan pendampingan yang lebih tepat.

“Kita terus kembangkan dan kita kolaborasikan dengan pihak-pihak lain yang terkait. Untuk produksi halal dan sebagainya masih mandiri mereka. Itu nanti akan kita kembangkan sehingga yang berkompeten bisa melakukan intervensi,” katanya.

Heri menyebut, dari puluhan PKBM yang mendapatkan pembinaan, sejumlah lembaga sudah mulai menunjukkan perkembangan dan mampu menghasilkan produk yang memiliki pasar. Bahkan, beberapa di antaranya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan maupun pihak lainnya.

Salah satunya PKBM Damai Mandiri di Kecamatan Teluk Pandan yang telah secara rutin menyuplai produk kue kepada PT Indomarko. Kerja sama tersebut membuat produk yang dihasilkan PKBM memiliki pasar yang lebih jelas.

“PKBM Damai Mandiri itu sudah suplai kue-kue ke PT Indomarko secara rutin. Bahkan ketika ada tamu, mereka bisa mendapatkan pesanan secara mendadak dan langsung dipenuhi,” ungkap Heri.

Selain itu, PKBM Ambalat Mulya di Kecamatan Rantau Pulung juga telah mengembangkan keterampilan menjahit dan kuliner melalui kerja sama dengan KPC, pemerintah kecamatan, dan sejumlah pihak terkait.

Menurut Heri, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan pemerintah mulai memberikan dampak nyata. Ke depan, orientasi pembinaan PKBM tidak hanya pada peningkatan keterampilan, tetapi juga bagaimana keterampilan tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang produktif dan berkelanjutan.

“Ujungnya adalah bagaimana mereka bisa menghasilkan produk, kemudian punya pasar, sehingga keterampilan yang mereka dapatkan benar-benar memberikan dampak terhadap kemandirian ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (bn/adv/04)

Pos terkait

banner 468x60