PKBM Kutim Tak Sekadar Beri Ijazah, Bekali Warga dengan Keterampilan dan Jiwa Wirausaha

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto

BORNEONUSANTARA, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus mengoptimalkan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak maupun masyarakat yang belum memperoleh akses pendidikan formal.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, mewakili Kepala Disdikbud Kutim Mulyono, mengatakan pendidikan nonformal tidak hanya ditujukan untuk memberikan kesempatan memperoleh pendidikan kesetaraan, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan yang dapat dikembangkan setelah mereka menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, keterampilan tersebut menjadi bekal penting agar lulusan PKBM tidak kebingungan ketika memasuki kehidupan setelah pendidikan. Mereka diharapkan mampu mengembangkan keterampilan yang dimiliki menjadi kegiatan produktif maupun usaha mandiri.

“Ujungnya adalah membekali anak-anak yang sampai hari ini belum mendapatkan kesempatan pendidikan. Selain memberikan kesempatan pendidikan melalui pendidikan nonformal, kita juga membekali mereka dengan keterampilan. Sehingga ketika mereka keluar dari PKBM, mereka bisa mandiri,” ujar Heri.

Ketua Harian DPP Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional, Fauzi Eko Prayono, menilai langkah yang dilakukan PKBM di Kutai Timur tersebut telah sejalan dengan arah kebijakan kurikulum pendidikan kesetaraan.

Ia menjelaskan, pendidikan kesetaraan tidak hanya berorientasi pada pembelajaran akademik, tetapi juga memiliki muatan pemberdayaan dan keterampilan yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

“Kalau kita lihat kebijakan kurikulum, pendidikan kesetaraan itu membagi dua. Ada pembelajaran yang bersifat akademik, mata pelajarannya sama dan setara dengan pendidikan formal, porsinya 70 persen. Kemudian 30 persennya adalah muatan pemberdayaan dan keterampilan,” jelas Fauzi.

Menurut Fauzi, porsi pemberdayaan dan keterampilan tersebut kini terus dioptimalkan oleh PKBM di Kutai Timur. Bahkan, muatan yang masih bersifat umum dalam kurikulum kemudian diterjemahkan oleh pengelola PKBM sesuai dengan potensi dan kearifan lokal daerah.

Salah satunya melalui pengembangan keterampilan kuliner, termasuk pastry dan bakery. Selain itu, PKBM juga mengembangkan berbagai keterampilan lain seperti membatik, menjahit hingga pemasaran digital.

“Ini yang dikerjakan teman-teman di Kutai Timur dan betul-betul dioptimalkan. Muatan pemberdayaan dan keterampilan dalam kurikulum pendidikan kesetaraan diterjemahkan sesuai dengan kearifan lokal,” katanya.

Fauzi menambahkan, pemberdayaan dalam pendidikan kesetaraan tidak sekadar mengajarkan kemampuan teknis. Aspek tersebut juga diarahkan untuk membangun pengembangan diri, harga diri, keberdayaan serta kapasitas peserta didik.

Karena itu, menurutnya, keterampilan yang diberikan harus diikuti dengan tumbuhnya mental dan jiwa kewirausahaan. Peserta didik diharapkan tidak hanya mampu membuat suatu produk, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan memasarkannya di tengah masyarakat.

“Jangan sampai mereka menguasai keterampilan, tetapi tidak bisa mengembangkannya di masyarakat. Ketika keterampilan itu diberikan, mental dan jiwa kewirausahaannya juga harus muncul,” tegasnya.

Penerapan konsep tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah PKBM di Kutai Timur telah mampu mengembangkan produk dan menjalin kerja sama dengan dunia usaha. PKBM Damai Mandiri di Kecamatan Teluk Pandan, misalnya, telah rutin memasok produk kue kepada PT Indomarko.

Sementara PKBM Ambalat Mulya di Kecamatan Rantau Pulung juga mengembangkan keterampilan menjahit dan kuliner melalui kerja sama dengan KPC, pemerintah kecamatan dan sejumlah pihak terkait.

Heri menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan dapat memberikan dampak lebih luas ketika muatan keterampilan dan pemberdayaan benar-benar dioptimalkan.

“Ini bukan hanya soal mendapatkan ijazah kesetaraan. Yang kita harapkan, ketika mereka selesai dari PKBM, mereka punya kemampuan, punya keterampilan, dan mampu mandiri. Jadi mereka memiliki bekal untuk menentukan masa depannya,” pungkasnya. (bn/adv/04)

Pos terkait

banner 468x60