
BORNEONUSANTARA, SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat kapasitas lembaga kesenian tradisional sekaligus meningkatkan kompetensi pelatih seni melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional, Pelatih Seni Tarsul dan Pelatih Seni Teater, Kegiatan tersebut diikuti 48 peserta dari berbagai lembaga kesenian tradisional dan tenaga pendidik di Kutai Timur..
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi langkah Disdikbud Kutim yang memberikan perhatian terhadap penguatan seni dan budaya daerah melalui peningkatan kapasitas pelaku seni serta tenaga pendidik.
Wabub Mahyunadi menilai seni dan budaya memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Kutai Timur, lanjutnya, tidak hanya memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi juga keragaman budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Menurut pria berkecamata itu, keberagaman masyarakat Kutim dapat menjadi kekuatan apabila dirawat melalui kegiatan-kegiatan positif, termasuk seni, budaya, pendidikan dan kegiatan keagamaan.
“Kesenian harus memberi dampak positif dan menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” kata Wabub Mahyunadi.

Ia juga mendorong agar pengembangan seni tradisional dilakukan secara kreatif dengan tetap mempertahankan identitas dan kearifan lokal. Pendekatan yang lebih kekinian dinilai penting agar kesenian tradisional dapat semakin dekat dengan generasi muda dan memiliki daya tarik yang lebih luas.
Di sisi lain, Wabub Mahyunadi melihat kebudayaan memiliki potensi untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata Kutai Timur. Kekayaan seni dan budaya lokal dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga kesenian, sekolah, masyarakat dan dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
“Saya berharap Bimtek yang digelar Disdikbud Kutim ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi dilanjutkan dengan program nyata di masing-masing lembaga kesenian maupun lingkungan pendidikan,” ujarnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham mengatakan, penguatan tata kelola menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan lembaga kesenian tradisional. Menurutnya, lembaga kesenian tidak cukup hanya memiliki aktivitas seni, tetapi juga perlu didukung administrasi dan kelembagaan yang tertata.
Hal itu dinilai semakin penting di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. Dengan tata kelola yang baik, lembaga kesenian memiliki kesiapan lebih besar untuk mengakses berbagai peluang dukungan pembiayaan, baik dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.
“Kita ingin lembaga-lembaga kesenian memiliki tata kelola yang baik sehingga lebih siap mengakses berbagai sumber dukungan,” jelas Ilham.
Selain memperkuat kelembagaan, Bimtek tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelatih seni Tarsul dan teater. Disdikbud Kutim memandang peningkatan kompetensi pelatih memiliki keterkaitan langsung dengan upaya memperkuat pembelajaran seni dan budaya di lingkungan sekolah.
Diketahui, Bimtek tersebut menghadirkan Lestari dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur dan Hamdani dari Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Timur sebagai narasumber.
Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan materi mengenai tata kelola kelembagaan, teknik kepelatihan, metode pembelajaran serta pengembangan kreativitas seni. Disdikbud Kutim berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat memperkuat ekosistem seni dan budaya sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan zaman. (bn/adv/09)







