
BORNEONUSANTARA, SANGATTA – Ekonomi kreatif (ekraf) semakin menempati posisi penting dalam peta perekonomian Indonesia. Berbeda dengan sektor ekonomi yang bertumpu pada sumber daya alam, ekraf mengandalkan ide, kreativitas, inovasi, keterampilan, serta kemampuan manusia dalam menciptakan nilai ekonomi. Kekuatan utama sektor ini terletak pada kemampuan mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk atau jasa kreatif yang dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan
Di Kabupaten Kutai Timur sendiri, perkembangan Ekraf sendir terus mendapat ruang yang cukup luas. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata juga tak luput memberikan perhatian secara khusus agar, sektor yang banyak di gandrungi oleh para pelaku usaha yang mayoritas kalangan anak muda ini terus berkembang.
Kepala Dispar, Mahriadi melalui Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Akhmad Rifanie mengatakan, perkembangan sektor ekraf terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, tercatat, dari 21 subsektor yang di naungi,mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Diantaranya sektor kuliner, kriya dan seni pertunjukan
Dengan keberagaman masyarakat yang berasal dari berbagai daerah, Kutim layak di sebut sebagai miniaturnya di Indonesia. Hal tersebut juga berdampak terhadap produk olahan makan (kuliner) yang cukup bervariasi yang di hasilkan oleh masyarakat.
“Potensi kita tidak kalah dengan daerah lain, satu yang cukup menonjol yakni kuliner,” ujarnya.
Selain kuliner, sektor fashion juga memiliki potensi yang cukup luar biasa untuk bisa di kembangkan. Dan bisa menjadi salah satu kekuatan baru dalam membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dan peluang usaha bagi masyarakat terutama anak muda yang memiliki semangat dan kreatifitas tanpa batas.
“Kita sudah punya batik Wakaroros yang cukup di kenal baik regional maupun nasional. Ini membuktikan kreatifitas lokal kita juga sudah di perhitungkan dan siap bersaing,” jelasnya.
Dari seni pertunjukan, berbagai festival yang menajdi agenda tahunan yang di gelar diberbagai wilayah di Kutim juga menjadi daya dorong penguatan budaya lokal agar tetap terus lestari menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif yang saat ini terus berkembang di Kutim. Salah satu contohnya adalah kesenian Lom Plai, yang mampu menajdi magnet wisatawan lokal hingga mancanegara untuk datang menyaksikan pelestarian budaya di Kecamatan Muara Wahau ini.
“Berbagai event yang melibatkan ank muda juga sering kita adakan, ini untuk memancing kreativitas dan menjadi ruang berekspresi mereka (pemuda),”ujarnya
Untuk lebih mengoptimalkan potensi lokal, terutama di sektor Ekraf, pihaknya juga menggandeng akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk melakukan pemetaan berbagai produk unggulan yang bisa di optimlakan dalam mendukung pengembangan usaha kreatif yang menurutnya tidak kalah bersaing dari berbagai daerah di Indonesia.
Momentum ini menjadi semakin relevan seiring terbitnya Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045, yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
Perpres yang di tanda tangani Presiden pada 2 Juli 2026 lalu itu, menjadi pedoman nasional bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan program pengembangan ekonomi kreatif secara terintegrasi hingga dua dekade ke depan, sekaligus mengoptimalkan 21 subsektor ekonomi kreatif yang ada. (bn/adv/08)







