
BORNEONUSANTARA, SANGATTA – Pengembangan usaha tidak hanya sebatas menghadirkan inovasi untuk lebih mengenalkan hasil kerajinan kepada pasar. Promosi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar sebuah produk bisa diterima dan memiliki daya saing.
Proses pengembangan sebuah usaha tidak terlepas dari daya dukung permodalan yang juga memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas sebuah produk terutama yang di kelola secara mandiri maupun kelompok masyarakat dalam skala kecil.
Hal tersebut disadarai betul oleh Pemerintah daerah yang terus beruyapa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai kebijakanya dalam mendukung pengembangan usaha yang di lakukan oleh masyarakat.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kutim, Akhmad Rifanie, menyebut, sektor permodalan menjadi salah satu kendala yang masih sering di temui para pelaku usaha terutama bagi mereka yang tengah memulai mengembangkan hasil produksinya.
“Kita tengah merumuskan sebuah program untuk bisa membantu teman-teman kita agar bisa terus berkarya tanpa harus memikirkan bagaimana nanti mengembangkan usahanya, terutama persoalan permodalan,”ujarnya.
Skema bantuan permodalan, sambung Rifanie tidak hanya berasal dari pemeirntah, pihaknya jug ammeberikan ruang bagi siapa saja, baik itu lembaga keuangan maupun perusahaan untuk ikut andil dalam membantu para pelaku usaha terutama ekraf untuk mengambangkan usahanya.
Untuk mencapai sasaran itu, saat ini pihaknya tengah melakukan validasi data para pelaku ekraf di seluruh wilayah. Dengan basis data yang tervalidasi ini, Dispar berharap ke depan bisa menjembatani pelaku ekraf Kutim dengan berbagai sumber permodalan, sehingga potensi kreatif masyarakat bisa berkembang lebih optimal.
“Contohnya ada yang mau buat film tapi tidak punya kamera dan beberapa peralatan, kita bisa fasilitasi mereka untuk bisa mendapatkan bantuan modal baik lewat lembaga keuangan maupun perusahaan,” jelasnya.
Menurutnya, validasi data tersebut menjadi langkah penting agar dukungan yang diberikan pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan para pelaku ekonomi kreatif. Data tersebut nantinya tidak hanya menjadi informasi jumlah pelaku ekraf, tetapi juga dapat menggambarkan jenis usaha, bidang kreativitas, kebutuhan peralatan, hingga kendala yang dihadapi dalam mengembangkan usaha.
Ia mengatakan, kebutuhan pelaku ekraf di Kutim cukup beragam. Tidak semua pelaku membutuhkan bantuan dalam bentuk yang sama. Sebagian membutuhkan peralatan produksi, sementara lainnya membutuhkan dukungan permodalan, peningkatan kapasitas maupun akses pemasaran.
“Jadi kita ingin tahu mereka ini bergerak di bidang apa, kebutuhannya apa, kemudian bagaimana kita bisa membantu. Jangan sampai ada bantuan tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya. (bn/adv/08)







