Festival Magic Land Dorong Ekonomi Kreatif, Komunitas Seni Kutim Turun Gunung Meriahkan Acara

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Dua festival besar yang akan digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim), Festival Magic Land dan Festival Seni Budaya diperkirakan tidak hanya menjadi ajang kesenian, tetapi juga lokomotif bagi kebangkitan ekonomi kreatif lokal. Sejumlah komunitas seni, UMKM, hingga fotografer dan perajin lokal diproyeksikan ikut terlibat dalam rangkaian acara tersebut.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan konsep festival yang lebih inklusif agar dampaknya tak hanya dirasakan oleh pelaku seni, tetapi juga masyarakat umum. “Kalau presentasinya sampai sekarang sedang penyusun rundown jadwal,” ujarnya saat ditemui usai peringatan HUT Kutim.

Ia menjelaskan, panitia ingin melibatkan lebih banyak komunitas seni dari berbagai kecamatan. “Talent-talentnya juga sudah siap, tetap seperti tahun lalu,” katanya.

Namun tahun ini, penyelenggara berupaya memperluas skala dengan menambah ruang tampil bagi komunitas musik, sanggar tari, hingga pelaku kriya daerah.

Daya tarik utama tetap pada 30 penari cilik yang sedang mempersiapkan tarian baru khusus untuk panggung Magic Land. “Anak-anak penari Magic Land sudah latihan. Pemusik-pemusik dan lain-lain juga sudah jalan,” ungkapnya.

Persiapan intensif ini menunjukkan, festival tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang pembinaan generasi muda.

Rangkaian festival dibagi dalam dua segmen, tiga hari untuk Magic Land dan tiga hari berikutnya untuk Festival Seni Budaya. “Ada lomba talk show dan lomba-lomba tari pesisir dan pedalaman kreasi untuk anak-anak,” jelasnya.

Selain pertunjukan, tahun ini festival juga membuka lebih banyak lapak untuk UMKM kuliner, pengrajin wastra, hingga komunitas literasi yang ingin memamerkan karya. Disdikbud menilai festival besar seperti ini mampu menciptakan efek ekonomi berlapis. “Kami ingin masyarakat bisa ikut meramaikan, bukan hanya menonton, tapi juga berjualan atau berpartisipasi,” katnya.

Ia menegaskan, festival budaya bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum penting untuk menghidupkan denyut ekonomi kreatif dan memperkuat identitas Kutai Timur sebagai daerah yang kaya seni. “Kalau sudah diumumkan tempat dan waktunya, ya monggo masyarakat bisa berpartisipasi,” ucapnya.

Dengan konsep kolaboratif dan keterlibatan komunitas yang lebih luas, dua festival akhir tahun ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan besar budaya Kutim sekaligus dorongan baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan pembinaan seniman muda daerah. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60