Harga Stabil dari Sulsel, Petani Kakao Karangan Bergantung pada Pasar Luar Daerah

 

BORNEONUSANTARA.ID, SANGATTA – Di balik stabilnya produksi kakao Kecamatan Karangan yang mencapai 90 ton per bulan, terselip isu strategis yang kini mulai menjadi perhatian pemerintah daerah, ketergantungan petani terhadap pasar luar daerah, khususnya Sulawesi Selatan, sebagai pembeli utama biji kakao. Ketergantungan ini dinilai rawan jika tidak diimbangi dengan penguatan pasar lokal dan diversifikasi rantai pasok.

Camat Karangan, Madnuh menjelaskan, selama bertahun-tahun, pembeli dari Sulawesi Selatan menjadi penyerap utama hasil kakao Karangan. “Kalau ditotal, setiap bulan produksi biji cokelat mencapai sekitar 90 ton. Ini angka besar dan menjadi bukti produktivitas petani kita masih sangat baik,” ujarnya.

Dua desa sentra, Karangan Ilir dan Mukti Lestari, mengelola 100 hektare kebun kakao yang setiap bulan menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp 2,1 miliar. Harga jual di angka Rp 24.000 per kilogram membuat petani masih mendapatkan margin yang baik.

Namun, ketergantungan terhadap satu wilayah pembeli membuat ekonomi petani berisiko jika terjadi penurunan permintaan atau perubahan harga di pasar eksternal. Saat ini, belum ada unit pengolahan atau pembeli besar dari Kutim maupun Kaltim yang dapat menyerap produksi dalam jumlah signifikan.

Ia menilai, pemerintah daerah perlu mulai memikirkan strategi rantai pasok yang lebih mandiri. “Kami ingin kakao tetap jadi komoditas utama petani. Karena itu, dukungan OPD sangat kami harapkan agar pengembangan kakao tidak tertinggal,” tegasnya.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah membangun jejaring pasar lokal dan regional, termasuk kemungkinan kerja sama dengan UMKM pengolahan cokelat di Kaltim. Pemerintah kecamatan juga berharap ada intervensi melalui program pelatihan pascapanen agar kualitas biji semakin naik, sehingga daya tawar petani meningkat.

Selain itu, peluang hilirisasi seperti pembuatan cokelat batangan, bubuk cokelat, dan minuman cokelat dianggap sangat besar. Jika unit pengolahan dapat berdiri di Karangan atau Sangatta, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar antar provinsi.

Dengan produksi yang konsisten, kualitas yang diakui, dan dukungan pemerintah, kakao Karangan berpotensi tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga menjadi pusat industri cokelat rakyat Kutai Timur di masa depan. “Dengan dukungan pemerintah daerah, kakao Karangan bisa naik kelas dan menjadi ikon pertanian Kutim,” tegasnya. (adv/diskominfokutim/yap)

Pos terkait

banner 468x60