SANGATTA – Agusriansyah, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur (DPRD Kutim), memberikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) terkait tawaran kuliah kedokteran bagi anak muda di Kutim dalam rangka pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama di Muara Bengkal.
Agusriansyah menyambut positif tawaran Pemda untuk mengajak anak muda Kutim berkuliah di bidang kedokteran. Dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan tenaga medis di daerah tersebut.
“Tentu lebih efisien kalau memang putra-putra daerah ada semacam kesepakatan ketika dikembalikan kesini bisa mengisi pos-pos yang dibutuhkan nanti,” katanya saat diwawancarai oleh awak media pada hari Senin (5/6).
Di samping itu, Agusriansyah juga berencana menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk memperluas kesempatan tenaga kesehatan medis yang dibutuhkan di Kutim. Khususnya di RS Pratama Kecamatan Muara Bengkal.
“Saya rasa sinergitas yang dibangun dengan cita-cita itu pasti lebih memudahkan untuk mendapatkan tenaga yang dibutuhkan biar cepat terealisasi,” urai Agus, sapaannya.
Lebih lanjut, sebagai anggota DPRD Kutim Fraksi PKS, Agusriansyah menyebut bahwa penting untuk memperhatikan pula pendapatan mereka, terutama untuk dokter spesialis, mengingat situasi dan kondisi Kutim yang berbeda dari daerah lain.
“Karena ini adalah kebutuhan yang sangat krusial dan kebutuhan yang sangat prioritas ini kan bisa didiskusikan selama tidak melanggar regulasi dan peraturan perundang undangan untuk meningkatkan pendapatan mereka ya harusnya memang dipikirkan. Karena situasi dan kondisi tempat kita, tentu itu wajar karena berbeda dari wilayah lain,” terangnya.
Terkait usulan Dinas Kesehatan mengenai jumlah dokter spesialis, Agusriansyah menganggap angka 60 sampai 70 adalah wajar. Terutama untuk daerah yang membutuhkan daya tarik agar dokter-dokter tersebut mau tinggal dan bekerja di daerah tersebut.
“Kita tahu bahwa dokter kan punya sumpah ketika kuliah. Tapi, ya rasional lah. Karena realitas memang seperti itu, dan saya rasa kalau ini disinergikan dengan Kementerian Kesehatan. Misalnya tentu ada daya tarik sendiri terhadap alumni-alumni spesialis kedokteran maupun mungkin dokter-dokter umum yang dibutuhkan,” tutupnya. (bn/idi-bt/adv)







